Tolong, Jangan Tambah Satu Lagi

Perjalanan hidup sejak dari Manggarai hingga sekarang membekaskan satu pelajaran: dengan kekuatan yang besar, datang juga tanggungjawab yang besar. Ya, bukan hanya Spiderman yang merasakan itu. Tolong, Jangan Tambah Satu Lagi adalah permintaan, sebuah puisi tentang pergulatan.

Whatever life holds in store for me, I will never forget these words: “With great power comes great responsibility.” – Spider-Man (2002)

Jangan Ditambah Lagi

Aku menikmati saat-saat itu;
perjumpaan dua dunia.

Kau bawa sesuatu dari duniamu,
yang jauh tak terjamah..
dan aku bingkiskan beberapa potong kata dari keseharianku,
tertiup sajak bernada magis menembus tipisnya kelambu jagadmu..

Memang,
segelintir sahabat lain mencibir..
mereka bilang pertemanan kita
tabu

Harusnya,
aku hanya dengan sesamaku..
Kau,
mestinya hanya dengan sebangsamu..
Jangan bertemu, berteman,
apalagi bercampur..

Tabu..

Aku hanya menjawab dengan gurauan kecil..
Bukankah pertemanan berarti,
menjangkau-yang-tak-terjangkau:
diri pribadi,
orang lain,
ciptaan,
termasuk juga makhluk-lain-dunia?

Bantahan mereka, jelas:
ini bukan pertemanan,
tapi perselingkuhan melawan iman!!

Ufh!!
Masuk telinga kiri..
keluar juga di telinga yang sama..

Anjing menggonggong,
khalifah tinggal memberi tulang..
Beres, tho?

Tapi,
toh aku merasa terganggu juga..
Akhir-akhir ini..

Kau kelewat banyak berbisik..
Entah kenapa, aku jadi terusik.
Terusik untuk peduli..

Awalnya satu..
Dua kali..
Dan akhirnya lagi dan lagi-lagi…

Aku juga kelewat banyak meminta..
Entah kenapa, kau selalu memberi
tanpa pernah mengharap imbalan..

Menerawang..
Melihat masa depan..
Mengartikan mimpi..

Hhhh…

Aku tahu,
kebersamaan ini tak bisa kudapatkan di warung pojok,
dengan ramai debat diskusi filosofis teman-teman sekampus..
Pun di antara sesama pecinta filter, kopi dan kompiang;
mereka tak bisa mengisi kekosongan yang kau tinggalkan..

Tapi,
aku ingin sejenak berhenti..

Semoga kau mengerti..

Bukan karena tabu,
juga bukan karena kita sudah tak cocok lagi..

Biarkan aku sejanak dewasa,
untuk bisa memahami..
Biarkan aku menikmati sepenggal waktu hidupku yang tak abadi,
untuk bisa mencerna
kenapa ini hanya terjadi di antara kita; kau dan aku,
dan segelintir orang..

Aku belum bisa yakin,
apakah ceritanya akan lain,
andaikan dulu kita satu dunia
dan kau bukan makhluk tak kasat mata..

Tapi,
bila kau ingin tahu,
apa sepotong sembahku setiap fajar
setahun belakanngan,
tak apa-apa:

“Tuhan,
aku ingin punya lima indra saja..
Tolong, jangan tambah satu lagi…

Amin.”

  • [message]
    • Catatan Narareba:
      • Tulisan ini diperbaharui pada Februari 2015.

Sebuah “kebetulan” yang saya alami di Ruteng, Manggarai, Flores, NTT pada tahun 2005 ternyata membawa perubahan yang sangat besar dalam hidup. Saya bergulat cukup lama dengan “kebetulan” itu, mulai dari Seminari Pius XII Kisol – Manggarai Timur1, Postulan (OFM) Bonaventura Pagal – Manggarai dan Novisiat (OFM) Transitus Depok – Jawa Barat2, sampai akhirnya di belantara Jakarta Raya.

Pada tahun 2010, dalam ketidaktahuan dan minimnya bimbingan dari Senior yang lebih berpengalaman, saya memutuskan untuk “pensiun” dan mencoba menjalani kehidupan yang normal. Belakangan saya sadar, ucapan Stan Lee yang dikutip Peter Parker dalam film legendaris Spider-Man itu ternyata benar: “Dengan kekuatan yang besar, datang juga tanggungjawab yang besar.”

Pengalaman hidup membuat saya mengamini bahwa apapun yang didapatkan dengan gratis, tidak selamanya mudah dimiliki. Saya kemudian belajar untuk menerima “kebetulan” itu dengan hati-hati. Semoga pada saatnya nanti, “kebetulan” itu bisa saya maknai dan saya jalani dengan bijak. Tabe.


1. Seminari Pius XII Kisol: tempat pendidikan calon imam setingkat Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas yang terletak di Kisol, Kelurahan Tanah Rata, Kecamatan Kota Komba; 9 kilometer dari kota Borong, Ibu kota Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT. ^

2. Masa Postulan (1 tahun) dan masa Novisiat (1 tahun) adalah dua dari delapan tahun masa program formatio awal untuk semua calon anggota ordo Fratrum Minorum (Ordo Saudara-saudara Dina), baik bagi mereka yang mempersiapkan diri untuk tahbisan maupun tidak. ^