Ternyata, Untuk Bisa Bahagia Itu Sederhana
Kami sedang makan singkong rebus, kala itu. Di Pagal, saat hujan rintik-rintik. Bertujuh, sambil bercengkrama di dapur biara tentang cuaca dan pengaruhnya terhadap rasa makanan di lidah.

Di tengah lalu-lintas percakapan, entah bemana, saya tetiba menyeletuk, “Coba kalau ada lombok tadi e.. Pasti akan lebih mantap.”

Almarhum Pater Flori Laot OFM, yang saat itu sedang di penghujung masa tuanya, langsung menoleh.

Ia menawarkan satu singkong lagi pada saya sambil berujar, “Adik, kalau kamu tidak pernah mensyukuri hari ini dan selalu membayangkan apa yang tidak ada di piring, kamu tidak akan pernah bahagia.”

Saya tersedak.

Kejadian itu terus terbayang sampai hari ini. Permenungan tentangnya memampukan untuk memilah, kapan harus bermimpi dan berimajinasi, kapan harus membumi dan terlibat dalam keseharian.

Tidak selalu.

Kadang, saya lupa dan terlena. Jakarta punya sejuta tawaran untuk impian dan kesenangan, entah itu duniawi pun surgawi. Kadang, apa yang ada di depan mata terabaikan, hanya untuk mengejar apa yang ada di ketinggian gedung-gedungnya.

Soal harta, tahta, dan Chef Renatta.

Beruntung, di masa-masa itu, di saat-saat kelewat jauh mengejar fatamorgana, bayangan Pater Flori yang dalam wajah kebapakannya menyodorkan singkong rebus, hadir kembali.

Ah, ya.. Pun jauh setelah kepergiannya bertahun-tahun lalu, sosoknya seolah masih tetap ada. Hadir dan bercengkrama dalam peristiwa keseharian, tentang bagaimana menjalani hidup di kesemrawutan Jakarta.

Bahwa beriman itu bukan tentang surga. Kamu pasti akan masuk ke sana oleh penebusan Sang Guru. Ini tentang bagaimana menjalani hidup sebagai murid di dunia. Agar ketika saatnya tiba, ada suara yang menyambutmu di ujung sana:

“Inilah anak yang kukasihi… “

Ternyata, Untuk Bisa Bahagia Itu Sederhana

*Kebon Sirih. Januari 2020.