Beranda Catatan Sepucuk Pistol dan Sepucuk Surat

Sepucuk Pistol dan Sepucuk Surat

Rindu, dendam, benci dan cinta adalah tema pembahasan yang telah berumur setua peradaban. Sepucuk Surat dan Sepucuk Pistol, sebuah penggugat kenangan; cara manakah yang selalu dipilih untuk menyelesaikan persoalan dengan pasangan, atau orang terdekat?

Rindu Dendam Benci dan Cinta di Narareba
Tidak ada bangsa yang hanya mempunyai sifat-sifat baik. Tidak ada juga seorang putra bangsa yang hanya mewarisi sifat-sifat yang baik saja. Seorang putra bangsa adalah manusia yang juga memiliki cacat bangsanya, tetapi sekaligus telah melaksankan sifat-sifat yang baik dengan cara sedemikian rupa sehingga sifat-sifat yang baik lebih mendominasi – Prof. Dr. Nicolaus Driyarkara, SJ[1]

Sepucuk Pistol dan Sepucuk Surat: Shoot Me or Mail Me

Sejujurnya, tulisan ini takkan mudah dipahami tanpa terlebih dahulu membaca puisi tentang Sepasang Sandal dan catatan yang disertakan di sana. Ditulis pada masa-masa pasca “perang pasangan”: antara masih ingin terus marah, melanjutkannya dengan terus bersikap diam, atau mengharap ada yang lebih dahulu mulai membuka pembicaraan.

Sebelum direvisi, surat terbuka ini seakan jadi satu pelengkap tambahan di Nara Reba Manggarai: minus Share, tanpa Like, senyap comment, dan sepi pengunjung. Benar kata pepatah, speak when you angry and you will make the best speech you will ever regret. Puitis tapi sarkastis, mengajak sekaligus menghina. Kira-kira begitulah isi dan tampilannya sebelum direvisi.

Di hari ini, saat coba dihadirkan kembali dalam nuansa kekinian, ada pembongkaran kecil-kecilan di beberapa sudut paragrafnya. Kalimat-kalimatnya pun ditambal-sulam lagi menjadi satu rangkaian surat yang benar-benar terbuka: bukan lagi ditujukkan untuk hanya dibaca oleh satu orang. Tentu kerangka aslinya tetap dipertahankan sebagai cermin atas masa lalu dan suar untuk masa depan.[2]

Sepucuk Pistol: Shoot Me

Aku tak tahu, apakah kita dilahirkan dari Yin dan Yang ataukah dari dua kutub kebencian. Nyatanya, dari lima purnama kebersamaan, kita hanya punya sepuluh hari efektif: 240 jam tanpa pertengkaran. Selebihnya, kita saling mengadu gengsi, tawar-menawar ego, perang sindiran, mengeram dendam, bahkan sampai baku teriak seperti dua ibu rumah tangga yang berkelahi membela nama baik anaknya masing-masing.

Untung aku plontos. Jika tidak, acara jambak-menjambak mungkin pernah tercatat juga. Kita memang selalu berbeda pendapat dalam terlalu banyak hal. Berdua, kita seakan pasangan yang berpijak pada satu bumi yang sama tetapi menatap kubah langit yang beda. Persis seperti itulah kita menggambarkan kebersamaan. Satu hati, dilema, simalakama, dan empat perasaan: rindu, dendam, benci, dan cinta.

Sering, tema kita setelah lelah menguras kata dan meluapkan isi hati adalah maaf. Itu tak bertahan lama. Kalau boleh dibilang, masa-masa tenang itu cuma ‘gencatan senjata’. Tak lama berselang, perang pasti kembali berkecamuk. Mirip dua pemeluk agama berbeda yang saling menghujat dan berdamai sebentar hanya untuk menyemai api dalam sekam.

Ah… Aku lantas bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah pertengkaran adalah cara kita merangkul serpihan perbedaan? Apakah cuma itu cara kita memancing perhatian, ketika yang satu kelewat asyik dengan kesendiriannya? Mungkin keduanya, “Ya”. Mungkin juga “tidak” dua-duanya. Itu hanya pertanyaan yang sempat muncul saat aku menjadi kalong pemangsa tembakau dan ampas kopi di beranda Genjing.

Pikiran lain kemudian terbersit saat tengah sabar menunggu lampu merah berganti hijau dan terkejut melihat sepasang pasutri tua saling menuntun melewati zebra cross. Apa yang membuat mereka bertahan dalam kebersamaan sampai setua itu? Mereka tentunya sudah banyak pengalaman dan kenyang pergulatan. Dibanding si “bapa tua”, aku hanyalah seorang pemuda plontos ceking yang katamu kelewat Flores[3]; pemarah, tak kenal maaf, sadis, dan.. terlalu muda. Sementara di sisi lain, kau juga…

Nara Reba dan Enu Molas Manggarai

Sepucuk Surat: Mail Me

Sudahlah. Menghitung perbedaan malah memperuncing ketegangan. Aku bersyukur, kita tak pernah benar-benar pergi menjauh. Saat yang satu pamit, yang lain menggamit lengannya kembali. Saat yang satu mengamuk, yang lain memberikan kecupan maaf. Saat yang satu diam dan mogok bicara, yang lain tak bosan-bosannya bertanya tentang ini atau itu.

Jauh di dasar hati, aku harap kita bisa seperti sepasang pasutri tua di zebra cross itu: saling menuntun saat yang lainnya enggan dan ragu-ragu menyeberangi jalanan ibukota yang padat menakutkan. Bukankah itu alasan, kenapa orang menggunakan kata pasangan? Ada untuk yang lain. Itu yang kupahami.

Hari ini, sekali lagi kita memulai sesuatu sebagai pijakan untuk hari-hari berikutnya dan sebagai kenangan untuk hari-hari sesudahnya. Izinkan aku mengajakmu menoleh kembali, ke belakang, ketika lima purnama lalu adalah hari ini. Siapa kita di hari itu?

Sekali lagi, izinkan aku memandumu ke lima purnama mendatang, ketika hari itu adalah hari ini. Siapa kita di saat itu? Jika aku musuh, tembak aku sekarang. Kau akan hidup dengan tenang setelahnya, tanpa satu lagi lelaki pengganggu yang mungkin akan berevolusi jadi momok menakutkan di esok hidupmu. Kalau aku sahabat, kirimi aku pesan tentang apa yang kau pikirkan saat ini.

Kalau aku hanya orang asing yang kebetulan duduk di sampingmu dalam bemo perjalanan hidup, mari kita berbagi bekal; siapa tahu punyamu atau punyaku akan habis duluan sebelum kita sampai di upacara pemakaman. Tetapi, jika kau hanya pembaca, ini hanya sebuah catatan lepas; abaikan.

Catatan Perjalanan:

Hitam Kulit Kriting Rambut, Aku Papua. Sebaris cuplikan dari lagu Tanah Papua yang dipopulerkan oleh Edo Kondologit itu sering kami nyanyikan bersama sesama teman-teman Indonesia Timur setiap kali ada kesempatan berkumpul. Di saat-saat seperti itu, kami juga bertukar lagu. Lagu-lagu dari NTT, semisal Bale Nagi, Flobamora, atau lagu Mogi Deo Keze Walo-nya Om Ivan Nestorman kerap menjadi lagu andalan saat kami-kami yang dari NTT didaulat untuk memainkan gitar.

Satu hal yang selalu saya ingat dari ‘kesempatan’ kumpul-kumpul itu: sebagian besar pasangan (pacar) yang diajak ikut serta adalah pasangan yang berasal dari daerah yang sama atau setidaknya tetangga kabupaten dalam satu provinsi. Nana dari Manggarai mengajak enu-nya, No dari Larantuka mengajak Oa-nya, begitu pun Nyong-nyong Ambon atau abang-abang Pace dari Papua. Sangat sedikit teman yang punya atau mengajak pasangan yang berasal dari wilayah barat Nusantara.

Tentang kenapa lebih memilih untuk punya pasangan sedaerah, itu akan kita bahas di lain kesempatan. Saat ini, saya tertarik untuk menuangkan kembali curhatan beberapa teman tentang kandasnya hubungan mereka. Kandas, karena mereka orang Timur. Kandas karena mereka orang Flores. Kandas, karena mereka orang Manggarai. Kandas, karena keluarga atau orang tua pasangannya tidak terima dan enggan merestui jika anaknya berpacaran dengan orang dari sisi timur Nusantara. Tambahkan ini: kandas karena kulit mereka yang hitam, atau karena rambut mereka yang keriting.

Modern Homo floresiensis[4]

Lebih dari limapuluh tahun lalu, Indonesia belumlah se-datar hari ini. Transportasi dan komunikasi antar-wilayah dan antar-pulau masih sangat susah. Interaksi antar-masyarakat masih terpusat di lingkup lokal-regional. Demikian pun dengan hubungan atau ikatan perkawinan; belahan hati tak benar-benar “jauh di mata”. Jodoh yang didapat umumnya masih orang sewilayah atau setidaknya masih satu pulau.

Keadaan mulai berubah ketika sekat-sekat pemisah jarak perlahan mulai diatasi. Gelombang migrasi antar-pulau yang dipicu kata merantau, mengadu nasib, transmigrasi atau “dikirim ke daerah”, perlahan membuat pernikahan pasangan yang berbeda budaya dan suku menjadi mungkin. Sejak saat itu pula drama penolakan dengan alasan beda suku, budaya, daerah (dan agama) menjadi menu sastra dan lagu; ungkapan perasaan akan kisah cinta yang kandas.

Sayangnya, setelah hampir tujuhpuluh tahun Indonesia merdeka, penolakan-penolakan itu masih tersisa. Masih di bulan ini, seorang sahabat bercerita tentang kekhawatiran orang tua pacarnya yang enggan merestui putrinya berpacaran dengan Orang Flores. “Katanya, orang Flores itu suka ngumpul sampe pagi, suka mabuk-mabukan, judi, ngomongnya kasar, suka mukulin istri dan anaknya.” Ah, di situ saya merasa sedih. Sungguh!

Lantas, siapa yang mesti disalahkan untuk keadaan ini? Apakah para orang tua, yang (dianggap) belum berpikiran terbuka? Para perantau Flores (sebelumnya), yang telah memberi citra negatif untuk semua putra-putri Pulau Bunga? Ah, mencari kambing hitam jarang terbukti menyelesaikan masalah. Masalah pun tak akan lantas selesai dengan meyakinkan orang tua pasangan bahwa “meskipun” menikah dengan orang Flores, anak mereka akan “baik-baik saja” – atau dengan menunjukkan bukti bahwa tidak sedikit pula “pernikahan dengan orang Flores” yang berujung happy ending.

The Unknown

Tak ada yang lebih ditakuti manusia kecuali sentuhan dari hal-hal yang tidak dikenalnya. Itu yang sempat saya ingat dari pemikiran Elias Canetti tentang Psikologi dan Sosiologi Massa dalam bukunya, “Crowds and Power”.[5] Dalam kegelapan, misalnya. Saat sedang sendirian dalam gelap tanpa bisa melihat apapun, manusia akan cenderung merasa takut (atau bahkan panik) ketika tiba-tiba disentuh. Gerak refleks yang terjadi saat manusia ‘dikagetkan’ juga adalah bentuk pengungkapan “ketakutan tubuh” atas hal-hal yang ‘asing’.

Peribahasa punya arsip tersendiri untuk membahasakan secara lain konsep Elias Canetti itu: tak kenal maka tak sayang. Perasaan cinta dan sayang yang tulus hanya akan mungkin ketika kita mampu memahami seseorang secara utuh: baik dan buruknya, kuat dan lemahnya, rapuh dan tegarnya. Satu hal yang perlu digarisbawahi dari tindakan kenal (mengenal) itu adalah proses. Usaha untuk mengenal (dan kemudian memahami) orang lain adalah sebuah rangkaian proses yang mengalir dalam waktu; bahkan waktu yang sangat lama.

Aisss… Sebelum saya mulai mengarang bebas, mari sudah, kita kembali ke pembahasan tentang Flores dan orang-orang Flores. Flores seakan baru tercatat di peta Indonesia saat Kelimutu, Komodo, Wae Rebo, atau Lamalera muncul sebagai salah satu destinasi wisata di Indonesia. Dalam perjumpaan saya dengan teman-teman di perantauan pada awal tahun 2000-an, tidak sedikit dari mereka yang belum tahu “Flores itu di mana, ya?” Ketidaktahuan itu bahkan telah terungkap sejak awal-awal perkenalan: “Masa ada orang Flores yang kulitnya putih? Kamu pasti dari Manado, ya?” Adooowww, mama sayang e

Mari kita mangkong (menuduh – bahasa Manggarai), bahwa mereka-mereka itu kurang belajar banyak tentang khazanah masyarakat dan budaya Indonesia. Boleh kita menghakimi, bahwa ketidaktahuan mereka adalah efek dari pembangunan dan kemajuan yang hanya dipusatkan di daerah barat, ketika “timur” seakan jadi anak haram Indonesia. Pertanyaannya kemudian adalah, sejauh mana usaha orang Flores sendiri untuk menunjukkan dirinya kepada “Indonesia”? Lalu, dengan cara apa Orang Flores ingin dikenal di mata suku bangsa lain di Indonesia?

Timing Is Everything

Cobalah untuk mengetikkan kata “Orang Flores” di kotak pencarian Google. Artikel apa saja yang muncul di halaman satu dan lima halaman setelahnya? Atau, pilih pencarian gambar dengan kata kunci yang sama: gambar apa saja yang muncul di sana? Jujur, saya sendiri tidak puas dengan hasil pencarian yang ada, baik pencarian web maupun pencarian gambar. “Orang Flores” tidak hanya itu, tidak hanya sebatas pembahasan yang diulas dan gambar-gambar yang ditampilkan di halaman awal Google; kebanyakan dari antaranya adalah tulisan dan gambar dari “orang bukan Flores”.

Tentunya tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai lembar jawaban atas pertanyaan “Apa tips jitu menghadapi kekhawatiran calon mertua tentang identitas Orang Flores yang dimiliki pasangan?”. Ini adalah sebuah ajakan, ajakan untuk membawa dan menampilkan diri seutuhnya sembari menampilkan kualitas terbaik yang kita miliki sebagai Orang Flores: keramahan, ketulusan, kejujuran, kesetiaan, dan masih banyak lagi. Hanya dengan cara itulah image negatif yang sebelumnya terlanjur terbentuk tentang kita orang Flores akan perlahan-lahan tergantikan dengan citra positif yang kita tampilkan dalam keseharian, baik di Flores maupun di perantauan.

Di sini, di Nara Reba Manggarai, saya memulainya dengan menulis. Bersama blogger-blogger Flores lainnya, saya berharap bahwa Blogspot, WordPress, atau ptaform blog lainnya bisa menjadi sarana untuk memperkenalkan Flores dan kebaikan hati orang-orangnya. Cara ini mungkin menjadi sumbangan paling sederhana dari kami, para blogger asal NTT. Masih banyak cara lain yang bisa dipilih sesuai dengan bakat dan talenta yang masing-masing dimiliki setiap orang Flores di tanah air dan di jagat maya.

Mari kita berkarya, mari kita memberi, mari kita tunjukkan kepada Indonesia tentang “siapa kita sebenarnya”. Ah, semoga dengan itu takkan ada lagi mertua yang menjadikan “Orang Flores” sebagai kambing hitam untuk tidak merestui pilihan calon pendamping hidup anak-anaknya. Memang, itu akan butuh waktu. Mengapa tidak mencoba, kalau mencoba itu tidak mengapa? Timing is everything, itu kata Garrett Hedlund. Semoga Tuhan merestui dan memberkati. Tabe.

[1] Pernyataan Driyarkara ini dikutip dari pembahasan Driyarkara mengenai Kepribadian Nasional di halaman 619 dalam buku Karya Lengkap Driyarkara. Saya merasa beruntung bisa mendapatkan buku itu dengan harga miring saat ada Bazaar buku di Gramedia – Matraman. Dari buku yang merupakan kumpulan esai Driyarkara itu saya belajar banyak tentang keIndonesaan dari sudut pandang seorang filsuf yang terlibat pada masa-masa pembentukkan Indonesia. Ya, meski harus diakui, membaca buku yang tebalnya lebih dari 1000 halaman itu butuh perjuangan, karena selain tebal gaya bahasanya pun masih terpaut dengan gaya bahasa tulis dari masa-masa awal pembentukkan Indonesia.

[2] Revisi atas blog Catatan Perjalanan ini sudah berjalan selama beberapa minggu. Di hari ini, saya terkejut dengan kemajuan yang telah dicapai hingga saat ini, baik dari segi isi tulisan yang dipoles kembali maupun rekaman Alexa atas perkembangan narareba.com. Ya, memberikan sedikit tambahan catatan di akhir tulisan lama dengan gaya yang sama sekali baru, ternyata membawa perubahan yang cukup signifikan, baik dari segi apresiasi pembaca maupun dari segi index situs di mata mesin pencarian internet.

[3] Kelewat Flores adalah istilah yang disematkan untuk saya padsa waktu itu; dalam beberapa kesempatan ‘dia’ menyebut saya lelaki yang flores banget. Sampai saat ini, saya masih belum paham, apakah gelar itu sama efeknya ketika dengan sebutan Jawa banget, Sunda banget, atau Batak banget. Ada pencirian kekhasan ciri manusia berdasarkan latar budaya di sana. Ada juga nada merendahkan yang terkandung di dalamnya, seakan mengejek sifat-sifat khas yang dimiliki seesorang karena terlahir di/dari sebuah daerah tertentu. Ah, apapun itu, saya mengamini kelewat Flores sebagai sebuah gelar yang patut dibanggakan; bahwa di tanah perantauan, saya tidak kehilangan ataupun berusaha menghilangkan identitas saya sebagai Orang Manggarai Flores.

[4] Modern Homo Floresoensis adalah nama yang dipakai Max Thundang untuk menamai blog kecilnya, nendong.blogspot.com. Di sana ia tuliskan slogan kecil yang seakan menjadi alasan, kenapa ia menambahkan kata ‘modern’ di depan nama latin untuk The Hobbit yang ditemukan di Liang Bua – Flores itu: “Ada orang yang terlahir hebat, dan ada sebagian orang yang harus berusaha untuk menjadi hebat. Modern Homo florensiensis bukan termasuk dalam opsi pertama, namun belajar dari orang-orang yang berada dalam opsi kedua.”

[5] Crowds and Power adalah buku karya Elias Canetti yang kami bahas selama satu smester di bawah bimbingan Dr. F. Budi Hardiman dalam mata kuliah Massa dan Kuasa di STF Driyarkara. Kutipan yang saya ambil di atas adalah terjemahan dari kalimat pertama dalam buku Elias Canetti itu. Berikut terlampir kalimat lengkapnya dalam satu paragraf utuh:

“There is nothing that man fears more than the touch of the unknown. He wants to see what is reaching towards him, and to be able to recognize or at least classify it. Man always tends to avoid physical contact with anything strange. In the dark, the fear of an unexpected touch can mount to panic. Even clothes give inuffient security: it is easy to tear them and pierce through to the naked, smooth defenceless flesh of the victim.”

Artikel sebelumyaResleting Lepas
Artikel berikutnyaPunggung Sabda