Senjakarta dan Jejakarta, Siapa yang Punya
Aku belum punya sabar yang sepanjang itu. Sepanjang dua hingga tiga jam menunggu dijemput, meski betis harus bentol-bentol digerogoti nyamuk. Bukan hanya sekali. Setiap minggu.

Dia punya.

Dia juga punya beberapa teman, yang kadang menemaninya di teras, sama-sama menunggu jemputan yang larut.

Dia juga punya power bank untuk berjaga-jaga, kalau-kalau harus menunggu sendirian. Juga punya Hay Day, game yang dipakainya untuk mengisi waktu menunggu. Terakhir, sudah level 76, katanya.

Sebenarnya, bisa saja dia langsung bergegas pulang. Meluruskan punggung dan melepas penat di rumah, ketimbang menunggu di depan teras. Karena masih ada esok, yang lelah, yang harus dihadapinya, lagi.

Sebenarnya, bisa saja dia menerima ajakan untuk diantar oleh yang lain. Salah seorang dari rekan-rekannya yang hebat itu.

Dengan begitu, tentu dia akan lebih cepat pulang. Tentu dia akan merasa lebih nyaman di jalan. Juga, dia pasti akan lebih cepat sampai.

Atau sebenarnya, dia bisa saja memutuskan untuk tidak lagi dijemput, setelah lagi-lagi terlalu lama menunggu untuk kesekian kalinya. Oleh motor bekas. Oleh lelaki keriting yang berbeda kelas.

Tetapi, dia punya.

Dia punya sabar yang sepanjang itu. Sepanjang tigapuluh hingga empatpuluh menit perjalanan pulang, untuk tidak ngedumel atau marah-marah. Bukan hanya sekali. Setiap minggu.

Dia hanya akan buru-buru memotong sebelum ada penjelasan panjang lebar, tentang alasan keterlambatan.

“Udah tau,” ujarnya setiap kali. “Emang, kapan sih kamu pernah tepat waktu?”

Kalau sudah begitu, aku hanya bisa diam, atau menunggunya duduk di boncengan sambil berharap punya sedikit jokes receh di lemari ingatan.

Jokes receh semisal, “Baru tau di Jakarta ada pintu surga yang lagi dibuka, bidadarinya tadi lepas satu nih di depan teras.”

Tetapi, aku tidak punya.

Senjakarta dan Jejakarta, Tentang Siapa yang Punya