Semeja, Sebakul, Senasib, Sepenanggungan
Kalau diingat-ingat dan dipikir-pikir, selama enam tahun tinggal di kaki Poco Lando*, ada dua tempat yang punya peranan besar dalam membentuk pola komunikasi murid-muridnya.

Kapela – tempat mereka bercakap-cakap dengan Tuhan.

Satunya lagi, kamar makan – tempat mereka bercengkrama dalam satuan klan-klan kecil. Ya, di setiap smester, ‘anak siswa’ akan dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masingnya berjumlah enam hingga delapan orang.

Di setiap kelompok, salah satu dari antaranya akan didaulat sebagai ‘Ketua Meja’, sedangkan yang lainnya akan berstatus sebagai ‘Anggota Meja’.

Dalam kelompok kecil inilah setiap orang akan berproses selama satu smester: bertemu 3 kali sehari setiap jam makan: berbagi nasi dan lauk pauk, berbagi tugas dan peran beres-beres, berbagi cerita dari kelas angkatannya, juga berbagi pengalamannya dari rumah atau cerita remeh tentang keseharian.

Dari pengalaman berbagi sebagai warga klan di meja-meja inilah pola komunikasi seorang murid dibentuk selama enam tahun proses pembinaan.

Dari situ ia belajar bagaimana menjadi anggota (juga ketua) yang tidak hanya bertanggungjawab terhadap isi ‘kampung tengah’ sesama mejanya, tetapi juga bagaimana berinteraksi dengan klan dari ‘meja-meja lain’.

Dari sanalah saya belajar bahwa dunia tidak akan pernah bisa memuaskan egomu jika ‘dimakan sendiri’, tetapi akan selamanya cukup jika ‘dibagi bersama’.

Dari pernah-pengalaman itu jugalah, bertahun-tahun kemudian saya belajar bahwa ungkapan para pecinta itu tidak selamanya absurd:

Bahwa ada masa-masanya, dunia ini terasa seolah milik berdua; yang lain hanya ngontrak.

Atau yang semacam itu.

*Poco Lando, Seminari Pius XII Kisol