Se-orang Manggarai dan Diam Yang Kembali
Se-ORANG MANGGARAI Di Depok, di depan rumah, pernah ditanam anakan Sirsak. Lima bulan sejak ditanam, tingginya tidak jauh berubah. Masih itu-itu saja. Setahun kami menunggu. Dan… tidak ada perubahan berarti. Tingginya hanya bertambah lima senti. Sempat terbersit niat untuk memindahkannya dari pekarangan depan dan menggantinya dengan tanaman lain yang lebih ‘berguna’. Niat itu kemudian diurungkan, setelah salah seorang tetangga member penjelasan: “dia sedang mengakar”.  Ah, ya, Saung bembang ngger eta, wake caler ngger wa. Hidup tak hanya tentang bertumbuh. Hidup juga tentang mengakar.

Nara Reba mulai mengumbar pucuk di awal 2013. Sepanjang tahun, ia bertumbuh dengan pesat: melebar ke jejaring Google dan merambah ke halaman depan sejumlah Search Engine lainnya. Sempat pula ranggasannya berdiri jumawa di posisi tiga besar ketika di kotak pencarian diketikkan kata Manggarai atau Orang Manggarai. Tetapi, mimpi buruk itu akhirnya datang juga: Nara Reba memang banyak bertumbuh, tetapi sedikit mengakar. Sederet masalah terkait SEO dan berat loading pada browser pun akhirnya mengikuti. Menuangkan ide di blog, ternyata tidak hanya menuntut kemampuan menulis yang baik, itu yang didalami di November yang mati suri kemarin. Ahh.. masih banyak pe-er yang menunggu.

DIAM YANG KEMBALI
Entah berapa purnama. Enggan kuhitung; jumlahnya lebih dari jari-jari tangan yang kini kukunya mulai menghitam setiap sebelum jam mandi sore. Akhirnya kau muncul lagi, lewat sosok yang lain. Menghapus kenangan ternyata tak sesederhana itu: tinggal DELETE dan EMPTY THE RECYCLE BIN. Aku sudah melalui proses itu; menghilangkanmu dari ingatan dan mengosongkan pikiran dari bayangan tentang kehadiranmu dalam setiap detail jejakmu di sekitarku. Toh ternyata hasilnya nihil. Kau muncul lagi lewat kembaranmu yang lain.

Keseringan berhadapan dengan pengulangan seperti ini, tak jarang membawa perang batin. Mungkin, kau hanya bisa dihilangkan kalau aku operasi brain washing? Hahaha… Untuk suntik sedikit silicon menambal hidung saja, aku tak punya Dollar. Apalagi yang itu. Mungkin, kau hanya bisa dihilangkan setelah aku menggamit kembaranmu? Mmmm… sepertinya tidak juga. Aku pernah gagal tiga kali dengan cara itu. Bagaimana dengan membunuh kenangan? Emang bisa? Kenangan belum pernah terbukti bisa dibunuh. Lihat saja, sekarang belum ada yang namanya kuburan kenangan.

Dan perang yang sama akan terus-menerus terjadi. Berkali-kali. Berulang-ulang.

Tak Seperti di waktu-waktu lalu, kali ini aku lebih memilih diam. Umur sudah seperempat abad, dan aku mestinya bersikap dewasa menyikapi apapun. Katamu, dulu. Aku lebih memilh diam. Pasrah, bukan. Menyerah, tidak. Aku diam untuk membiarkan semesta mengejekku dengan kembaran-kembaranmu.  Aku tahu, di luar sana, masih ada yang lebih mirip lagi. Aku tahu, semesta masih punya perbendaharaan kembaranmu yang siap dikeluarkannya tiap kali aku merasa sudah cukup tegar untuk melepas ingatan tentangmu. Aku memilih untuk menghadapi ‘setiap kali’ itu dengan diam. Karena ribut, amukan, teriakan, makian, pun sumpah serapah, sudah pernah terbukti tak berhasil membawamu kembali ataupun menghilangkanmu sama sekali.
Kalau memang ingin diam, kenapa aku menulis?
Biarlah. Biarkan.
Setidaknya, dengan ini aku masih tetap merasa normal.

Setelah lama tak menulis untuk Nara Reba Manggarai, akhirnya ini tulisan yang pertama, lagi.