Salah Mendaki Ke Gunung Gede
Setengah mengantuk, saya membuka mata dan menyadari, bus yang kami tumpangi tidak sedang mengarah ke Garut. “Mas, kita naik bus ke mana?” tanya saya pada mas Adit yang sedang awas memperhatikan pemandangan di kiri-kanan jalan. “Ke Cibodas, Bang” jawabnya sambil lalu. Astaga, saya salah jurusan!!

Catatan Pendakian: Gunung Gede

Samar Ajakan ‘Ikut Mendaki’

Butuh sekian menit untuk me-loading kesadaran dari kantuk yang begitu menyiksa gara-gara terjebak macet selama tiga jam dalam bus Transjakarta dari Halte Pasar Genjing ke terminal Kampung Rambutan sore tadi. Kenapa tadi mas Adit bilang, kami akan turun di Cibodas? Bukankah itu pintu jalur pendakian Taman Nasional Gunung Gede – Pangrango?

Saya mencoba me-refresh ingatan ke beberapa hari sebelumnya, saat ajakan naik gunung itu dibunyikan di tengah-tengah kesibukan memantau isu pilkada 2015. Dalam ingatan, ajakan Uphie, rekan sekantor di Tebet, masih terekam samar.

“Bang, mau ikut naik gunung, gak? Temenku gak jadi ikut, kita kekurangan satu orang lagi”, tanyanya waktu itu.

Saya yang sedang pura-pura sibuk di depan laptop langsung menjawab dengan nada canda, “Kalau gratis, aku ikut deh.. Hahaha…

“Gratis koq, bang. Tinggal bawa badan dan pakaian aja,” tanggapnya serius.

Saya ingat persis jawaban ‘sekenanya’ yang mengakhiri obrolan singkat jelang jam bubar kantor sore itu. “Oh, boleh. Aku ikut kalau gitu.

Benar-benar Serius!

Ternyata Uphie benar-benar serius! Pesan-pesan via Whatsapp yang kemudian dikirimnya berisi detail hal-hal yang harus dipersiapkan: pakaian, mantel, sarung tangan, kaus kaki, sepatu, senter, obat-obatan, tas, dan printilan-printilan pendakian lainnya. Saya-nya yang kurang serius. Pesan demi pesan ‘peringatan’ itu cuma ditanggapi dengan “oke”, “siap” dan jawaban afirmasi singkat yang sejenis. Ya, dalam beberapa hari itu isu Real Count hasil pilkada memang merampas segalanya, bahkan sampai ke konsentrasi menyendokkan makan malam ke celah bibir. Ah!!

Di kantor, dua hari sebelum mendaki, Uphie bertanya lagi saat berpapasan. “Jadi kan, Bang?”

Duh!! Baru ingat kalau aku sebelumnya sudah terlanjur meng-iya-kan. “Iya, jadi”.

“Nanti kita berempat, bareng Adit (rekan sekantor di Tebet) dan temenku,” jelasnya sambil beranjak menjauh.

Seingat saya, pertanyaan inilah yang saya tanyakan waktu itu, “Kita mendaki ke mana, Phie?”

Nah. Karena dia sudah menjauh, yang terdengar samar waktu itu hanyalah bunyi huruf  P, huruf yang langsung saya simpulkan dengan “Papandayan”. Hadeuhh!!

Ternyata Ke Gunung Gede

Ternyata kami ke Gunung Gede. Terlambat sudah!! Terlanjur sudah browsing tentang Gunung Papandayan dan detail persiapan pendakian ke sana. Sama sekali tidak ada persiapan tentang Gunung Gede, kecuali beberapa keping informasi yang dipungut dari ingatan tentang buku yang ditulis Harley Bayu Sastha, Mountain Climbing for Everybody.

10-12-2015. Di sisa perjalanan dalam bus Marita malam itu, draft catatan ini dibuat sembari mengingat barang-barang yang tersimpan di bagasi belakang; hasil dari manajemen perjalanan yang salah dan pengaturan waktu yang jelas-jelas akan keliru total. Satu yang tersisa di ujung draft adalah, setelah turun dari pendakian nanti, saya akan menulis tentang Gunung Gede di narareba.com. Ya, karena saya yakin tentang ini: tidak ada “kebetulan” yang salah, tidak ada “pendakian” yang keliru.