Resleting Lepas
Banyak yang tersesat di artikel ini saat mencari penjelasan tentang “cara memperbaiki resleting yang lepas”.[1] Sebenarnya ini hanya sebuah refleksi kecil tentang resleting celana yang macet. Sengaja dijuduli Resleting-Lepas sebagai pemancing tanya: apakah barang rusak harus selalu digantikan barang yang baru.

Resleting Lepas
The world is a dangerous place to live; not because of the people who are evil, but because of the people who don’t do anything about it. – Albert Einstein

Resleting Macet

Reslesting[2] macet, suatu hari kemarin di Margasiswa I – Menteng.[3] Saat sedang bergulat dengan sabun dan minyak goreng demi melicinkan kembali rel gerbang penutup kaki itu, seorang junior berkomentar, “Aduh, Kaka… Itu tandanya Kaka su’ harus beli Jeans baru.”

Tidak. Jeans ini masih bagus, meski ujungnya sudah bolong karena keseringan tertimpa tumit dan tergesek aspal. Hanya resletingnya yang macet. Di usianya yang kelima, sejak dibeli tahun 2007 lalu, Jeans ini masih merona biru; sewarna hamparan laut dari balik teleskop kapal selam. Ah, dengannya aku sudah berkelana dan bercelana ke mana-mana. Mana mungkin dilepas begitu saja?!

Beda Generasi

Sanggahan itu tidak diutarakan pada si junior. Pernyataannya bukanlah ajakan untuk berdebat, bukan juga bernada mengejek. Ia mungkin hanya prihatin dengan setengah jam yang penuh pergulatan membetulkan resleting tanpa ada tanda-tanda kemajuan. Ya, resleting ini belum jadi juga; kesal sudah mulai mendera, apalagi badan hanya dibalut handuk pinjaman dari jemuran teman-teman.

Ingin rasanya memberikan jawaban dengan perumpamaan ala Old Shatterhand,[4] si Pengelana Tua: “Kami berkuda sepanjang daerah Barat, melintasi sabana dan stepa yang dihuni suku-suku musuh sambil melingkari kepala dengan bulu rajawali putih di ikat kepala Apache. Jika kemudian helai bulu rajawali itu harus patah saat kami melintasi semak untuk mengendus musuh, haruskah kami membuangnya dan menembak rajawali lain sebagai gantinya? Kami tidak seperti itu. Hogwh!!”

Tetapi, sudahlah. Suatu saat dia juga akan mengerti. Tak hanya beda generasi, mungkin kami juga berbeda prinsip soal pakaian – kecuali untuk (maaf) pakaian dalam tentunya. Sebagian besar penghuni lemari kos-an adalah hadiah dari ‘seseorang’ atau dibeli karena dipilih oleh dan/atau bersama ‘seseorang’. Hanya satu atau dua potong yang harus dibeli sendiri karena kebutuhan yang benar-benar mendesak.

Lebih dari sekadar penutup aurat, pakaian adalah pelindung bagi tubuh yang terselimut di baliknya. Jubah bagi para pastur, kerudung bagi para suster, jilbab dan kopiah bagi saudara/saudari muslim, atau pakaian kuning keemasan bagi para bhiksu. Ketika seseorang menghadiahkan sepotong pakaian, ada perasaan bahwa ia dengan tulus menilai, orang yang dihadiahi “layak” memakai apa yang ia berikan. Itu yang kupahami. Ah, ya. Sampai saat ini, kaos abu-abu ‘itu’ masih tetap jadi favorit. Di dadanya, tulisan Think Out of The Box masih berderet bangga.

Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana. Seseorang dihargai karena tutur katanya, seseorang juga dihargai dari busana/penampilan tubuhnya. Untukku, Sang Levi’s dengan resletingnya yang macet itu adalah penanda kebebasan. Ia selalu dipakai dengan bangga di antara para sahabat ber-celana bahan. Lebih dari itu, ada perasaan bahwa pesan sang pemberi Levi’s selalu menyertai langkah kedua kaki yang terbalut kain biru laut itu: “Carilah dan jadilah dirimu sendiri; hanya ikan mati yang hanyut terbawa arus.”

Belajar Dari Rivotorto

“Lihatlah kembang bakung, tidak menanam, namun Salomo kalah kemewahannya. Burung-burung udara, tidak menabur, namun tak seekor pun mati kelaparan”. Itu yang membuat aku yakin sejak dulu,  Sang Pengelana Asisi punya prinsip yang tak sepenuhnya tidak waras. Aku masih menggenggamnya dalam ingatan dan menyematnya dalam hati sejak berangkat dari Rivotorto.[5] Itu terbukti. Sampai hari ini, Sang Khalik tak pernah membiarkanku kedinginan tanpa sehelai kain yang tersisa di lemari.

Olee… Sebelum mulai ngawur, terbawa melow, dan terlanjur filosofis, sebaiknya langsung cari Tukang Vermak Levi’s saja. Menuliskannya di blog tidak akan menyelesaikan masalah. Kemarin minggu yang padat. Banyak cucian kotor. Bahkan yang tersisa di badan dan jemuran pun harus basah terguyur hujan Jakarta sore kemarin. Kebetulan, hari ini akan ada cukup banyak waktu untuk melihat tarian mesin jahit.

Hogwh!!

Memanfaatkan Jeans Bekas Pakai

Jejak Nara Reba Manggarai:

Saya teringat dengan pelajaran Bahasa Indonesia di masa-masa sekolah dulu. Ada rasa kecewa yang muncul setiap kali tugas atau ulangan “mengarang” dibagikan. Entah kenapa, selalu saja ada coretan koreksi: karena penulisan kata yang salah, karena kalimat yang tak lengkap, karena ejaan yang tak sesuai kaidah EYD, atau karena kesalahan kecil semisal tak bisa membedakan titik dua dan titik koma. Padahal, saya merasa telah berusaha sebaik mungkin.

Setelah beberapa hari bergulat dengan proyek make over Nara Reba, saya kemudian tertawa sendiri. Ada yang lucu selama proses revisi tulisan, mulai dari Esok Dalam Gelas Kopi sampai akhirnya terdampar di draf editan artikel ini. Saya merasa asing sekaligus malu. Ketika dibaca kembali, bahkan saya sendiri pun tidak langsung mengerti dengan tulisan-tulisan saya. Padahal belum lima tahun berlalu. Hahahaha…

Barulah saya ‘ngeh’, kenapa tulisan-tulisan Nara Reba jarang dihadiahi komentar di comment box-nya. Kalau penulisnya sendiri gagal paham, apalagi pembacanya. Hadeuh… Saya lantas mulai menebak dan mengira-ngira, mungkin benar kata Max, si penulis Nendong saat menobatkan Narareba sebagai salah satu blogger Manggarai terbaik: Nara Reba bisa ramai dibanjiri visitor hanya lantaran desainnya yang unik dan keywords-nya yang menggigit Engine. Mendadak, saya jadi rindu dengan coretan-coretan koreksian yang dulu, dengan nilai “merah” di kertas ulangan. 🙁

Terlepas, Menjadi Bebas Dalam Kesederhanaan

Saya masih ingat dulu, duluu…uu sekali, saat pertamakali menerima surat pemberitahuan kelulusan testing masuk ke Seminari Pius XII Kisol.[6] Bersama kabar gembira tentang kapan tanggal dan hari “masuk seminari”, disertakan juga dua lembaran berisi apa-apa saja yang mesti dibawa masuk. Selain kelengkapan dokumen, lembaran itu dengan rinci menyebutkan apa dan berapa potong pakaian yang harus dibawa. Oh, iya; plus tikar, bantal, selimut, ember dan sapu ijuk.

“Masuk Seminari” adalah pengalaman saya “keluar rumah” untuk pertamakalinya. Awalnya seolah menjadi Adam yang harus keluar dari Firdaus. Sekarang semuanya harus mulai dipikirkan dan dikerjakan sendiri: mengatur pola hidup, pola makan, keuangan, dan termasuk cara berpakaian. Di Kisol saya perlahan belajar, dengan seratusribu, duapuluhlima kilogram beras, setumpuk buku dan pakaian selusin, saya sudah bisa hidup selama sebulan.

Keyakinan itu kemudian diperkuat saat sempat merasakan hangatnya persaudaraan di Ordo Saudara-saudara Dina (OFM). Cara hidup sederhana yang ditekankan para Saudara Tua benar-benar menginspirasi saya. Saya juga bersyukur pernah mengenal dan belajar langsung dari almarhum Pater Florianus Laot, OFM[7] yang semasa hidupnya kerap mengunjungi kami di Postulan Pagal.

Suatu sore, ketika kami sedang menikmati singkong rebus hasil panenan dari kebun, saya sempat menyeletuk: “coba kalau ditambah sedikit sambal terasi, pasti rasanya akan lebih luar biasa!”. Pater Flori menoleh ke arah saya dan memberikan satu teguran singkat, pedas, tetapi membekas hingga hari ini. “(Singkong) Ini sudah enak. Kalau selalu pakai coba-kalau tiap kali makan, kamu tidak akan pernah kenyang, tidak bisa bahagia.”

Berwaktu-waktu setelahnya, setiap kali duduk di meja makan manapun, teguran Pater Flori itu seakan menjadi menu pembuka setelah doa sebelum makan. Awalnya saya merasa terganggu. Sungguh!! Tetapi, ada hal menakjubkan yang kemudian saya syukuri. Saya lalu bisa memaknai permintaan maaf setiap kali nyonya rumah sedikit merendah dengan berujar: “Maaf kalau menu-nya cuma apa adanya.”

Di hari-hari ini, selalu ada rasa syukur yang terucap setiap menikmati makanan sambil mengingat rangkaian proses yang terjadi sejak makanan itu berupa benih, tumbuh dan berkecambah, hidup dan dipanen, berpindah tangan lewat transaksi dagang, diolah di dapur dengan racikan bumbu dan disajikan dengan penuh kasih sayang dan kehangatan. Setiap jamuan makan, entah itu di meja makan rumah, di pojokan warteg, di atas trotoar dengan bungkusan nasi goreng, atau di kosan dengan Rice Cooker yang umurnya sudah setua perusahaan pembuatnya adalah tempat untuk menemukan kebahagiaan baru dan kejutan yang berbeda.

Jeans, Deko Tissue, dan Baju Bola

Kembali ke cerita tentang pakaian semasa di Kisol. Karena sejak awal sudah ditentukan harus membawa berapa potong pakaian saja, persediaan pembalut tubuh pun terbatas. Selama di Kisol, hanya selusinan itulah yang dipakai; plus baju seragam dan baju kaos bergambar Pater Leo Perik, SVD – Sang Pendiri. Kemungkinan untuk mengganti satu di antara selusin itu hanya datang saat pulang libur, itu pun kalau diganti. Kalau tidak, yaa… pakaian-pakaian itu akan bergantian mengisi jadwal shift sebagai penjaga badan selama bertahun-tahun, sampai akhirnya pensiun karena ukurannya sudah tak muat lagi.

Terbiasa dengan keadaan itu, saya kemudian mengamini apa yang (juga) pernah dituliskan pemilik blog Nendong dalam status Facebooknya bertahun-tahun lalu: “Kalau ke sekolah, yang didandani itu bukan muka atau pakaian, tetapi otak.” Ya, di Kisol, “dandan” tidak termasuk dalam prioritas utama. Apalagi, itu sekolah calon imam, yang semua muridnya adalah laki-laki. Asalkan rapi, bersih, dan ‘stel dalam’ itu sudah cukup .

Dandan, pada waktu itu, mungkin akan menjadi kata yang dipilih untuk menjelaskan cara kami berpakaian di hari-hari perayaan besar atau saat Minggu Bebas, hari minggu saat kami diperbolehkan untuk berkunjung ke keluarga di luar asrama Seminari. Ada tiga jenis pakaian yang seingat saya selalu identik dengan kata “dandan” itu: Jeans (Celana Denim – Jeans), Deko Tissue (Celana Bahan), dan Baju Bola (Baju Jersey). Kalau ditambah dengan sandal Topsy (salah merek sandal yang ‘tenar’ pada masa itu); lengkap sudah. Orangnya akan disebut reba (ganteng), tanpa perlu dinilai keelokan tampangnya. Wkwkwkwk…

Bukan cerita baru kalau tiap orang punya “pakaian gantengnya” sendiri, satu setelan yang selalu menjadi andalan untuk dipakai saat Minggu Bebas atau momen-momen tertentu. Tentu alasan di balik pemilihan pakaian ganteng itu berbeda-beda: entahkah karena Jeans-nya memang cocok dan nyaman saat melekat di badan, ataukah karena Deko Tissue-nya dibeli atas pesanan khusus di salah seorang penjahit terkenal di Ruteng, ataukah karena Baju Bola-nya adalah jersey klub bola kebanggaannya, atau alasan-alasan lain.

Jeans and Zipper Narareba

Resleting Lepas

Kembali ke Margasiswa I – Menteng, bertahun-tahun kemudian, ke cerita tentang resleting yang macet. Kebetulan, resleting yang macet di hari itu adalah resleting Jeans kesayangan, meminjam istilah sebelumnya, Jeans yang membuat saya merasa Ganteng, hahaha!! Saat dianjurkan untuk melepas-pergikan begitu saja Jeans andalan itu dan menggantikannya dengan Jeans yang baru, ada perasaan tidak rela – sekaligus tidak dimengerti.

Cuma resletingnya yang macet. Toh Jeansnya masih bagus, masih merona biru; sewarna hamparan laut dari balik teleskop kapal selam. Satu tugas yang kemudian tersisa adalah, pergi ke tukang “Vermak Levis” atau membolak-balik Google dan tersesat di belantara artikel bertema “Cara Membetulkan Resleting Lepas”. Ah, catatan ini sudah kelewat panjang. Mari kita sambung di lain kesempatan. Tabe.

[1] Sejak ditemukan pertamakali dalam bentuk yang paling sederhana oleh Elias Howe pada 1851, dipatenkan oleh Whitcomb L. Judson pada 1893, hingga dimodifikasi dan dikemas lebih modern oleh Otto Fredrik Gideon Sundback selama 1906-1917, resleting tidak banyak berubah. Sejak dulu, masalah seputar resleting pun tak jauh dari hal yang itu-itu juga: mulai dari resleting yang macet, geriginya yang tak mau menyatu, atau kepalanya yang terlepas. Ada banyak cara yang ditawarkan pengembang situs dunia maya untuk memperbaiki resleting sesuai dengan jenis kerusakannya. Saya lebih suka pembahasan dari situs Lifehacker. Mereka memberikan tutorial yang simple dan praktis disertai video yang menarik. Ini dia, cara memperbaiki resleting lepas ala Lifehacker.

[2] Resleting. Istilah itu sudah saya dengar sejak dibesarkan di kampung halaman saya, Manggarai – Flores. Belakangan, ketika telah sampai di perantauan, saya kebingungan mencari istilah baku dari kata itu. Mana yang benar menurut bahasa Indonesia: ritsleting, risleting, resleting, seleretan atau zipper? Penyumbang artikel Wikipedia juga masih tumpang-tindih memakai kata itu. Bahkan dalam biografi Gideon Sundback (yang menggunakan kata Risleting), dicantumkan pesan: “Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia.”

KBBI Daring (Kamus Besar Bahasa Indonesia Online) pun tak menyimpan informasi tentang itu. Selidik punya selidik, data KBBI Daring yang mengudara saat ini disumberkan dari KBBI III, versi pendahulu KBBI IV. Pantas saja pesan: “Maaf, tidak ditemukan kata yang dicari” selalu muncul setiap kali mencari mana kata yang baku dari alat yang dalam bahasa inggris disebut Zipper itu.

Alat populer untuk menyambung dua sisi kain itu kadang juga disebut Kancing Seleret (Seleretan) ternyata dalam bahasa Indonesia baku disebut Ritsleting. Kata ini diserap dari bahasa Belanda ritssluiting, demikian diungkapkan R. Jones dalam “Loan-words in Indonesian and Malay”. Silahkan kunjungi Tanja Bahasa untuk menelusuri penjelasan lengkap tentang ritsluting ini.

[3] Margasiswa adalah wisma mahasiswa yang menjadi tempat berhimpun sekaligus Sekretariat PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia). Margasiswa I – Menteng adalah salah satu dari sekian banyak margasiswa PMKRI yang tersebar di seluruh nusantara. Saya sendiri resmi diterima sebagai anggota PMKRI Cabang Menteng St. Robertus Bellarminus pada 11 November 2011. Sejak itu, Margasiswa I – Menteng telah menjadi rumah kedua di perantauan Jakarta hingga sekarang.

[4] Like Father, Like Son. Selain pencerita yang baik, Bapa (Angelus Thundang) adalah seorang pembaca yang tekun. Sejak kecil, saya telah diperkenalkan dengan begitu banyak buku dan novel yang dikoleksinya. Winnetou, kisah petualangan Old Shatterhand bersama ketua suku Indian Apache Mescalero, adalah salah satu dari sederet novel yang dikumpulkannya dari mana-mana. Ruteng di era 90-an boleh dibilang hanya satu noktah kecil di peta peradaban dunia – sangat sulit mendapatkan koleksi lengkap novel Karl May pada masa itu. Dikenalkan dengan tokoh sekaliber Old Shatterhand adalah hadiah masa kecil yang tak hentinya saya syukuri hingga hari ini.

[5] Rivotorto adalah sebuah tempat di dekat kota Asisi. Di sanalah Santo Fransiskus Asisi memulai karyanya bersama para saudara pertama Ordo Fratrum Minuorum (Ordo Saudara-saudara Dina). Rivotorto banyak dipakai oleh pengikut Santo Fransiskus di seluruh dunia untuk menamai rumah biaranya. Saya sendiri menggunakan istilah itu sebagai nama lain untuk membahasakan Rumah Biara Novisiat Transitus OFM – Depok, tempat saya pernah dididik untuk mengenal dan mendalami spiritualitas hidup Santo Fransiskus Asisi, Sang pelindung hewan, pedagang, dan lingkungan.

[6] Kisol, Seminari Pius XII Kisol (kami menyingkat namanya menjadi Sanpio). Tentang Sanpio, ini keterangan yang diberikan Wikipedia: “Sebuah sekolah seminari setingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas yang terletak di kelurahan Tanah Rata, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur.” Saya sendiri telah menuliskan sedikit catatan tentang Kisol dan pengalaman bersama teman-teman seangkatan di artikel sebelumnya, Lemorai: Perantau Yang Kembali

[7] Pater Florianus Laot, OFM. Bagi orang Manggarai – Flores ia adalah legenda. Ijinkanlah saya membahasakan kekaguman terhadapnya dengan ini: filsafat punya Sokrates, Indonesia punya Gus Dur, Manggarai punya Pater Flori. Namanya juga tak bisa dilepaskan dari sejarah para Saudara Fransiskan. Saat OFM memperluas karya pelayanan sampai ke Manggarai-Flores, Florianus Laot adalah nama yang tercatat sebagai orang Flores pertama yang masuk dalam ordo Saudara-saudara Dina itu. Sekali lagi, saya bersyukur mengenal dan “dididik” oleh sang legenda. Terimakasih Pater Flori