Pendopo Ageng Mangkunegaran – Jejak Narareba
Ada yang belum dikisahkan di narareba.com; kisah perjalanan ke Solo – Jawa Tengah, akhir Oktober lalu. Beruntung, Facebook masih utuh menyimpannya, terlampir sebagai catatan atas foto langit-langit Pendopo Ageng Mangkunegaran. Ini adalah jejak perjalanan Narareba yang diiringi terimakasih tak terhingga.

Pendopo Ageng Mangkunegaran - Jejak Narareba
Karena Nasional Bootcamp. Itu yang menjelaskan, kenapa sampai saya bisa ‘terdampar’ di Solo. Puji Tuhan, saya dan seorang teman dari Bali (Fatkur Rohman), terpilih sebagai pemenang tiket Growth Hack Marketing dari #NasionalBootcamp19. Tulisan ini aslinya terpisah dalam dua bagian bertemakan wujud terimakasih untuk dukungan para sahabat Facebook. – @narareba

Suatu Hari di Pendopo Ageng Mangkunegaran

Di bawah titik pusat langit-langit Pendopo Ageng Mangkunegaran, Solo..

Saya terbaring. Diam. Dengan tangan yang menggenggam kamera, dengan hati yang menjaring ingatan yang tercecer di mana-mana. Sang guide muda yang baik hati, seakan memberi saya ruang untuk mendiamkan diri di situ. Ia mengambil jarak: menjauh, tetapi tidak pergi.

Diam yang sejenak itu seakan jadi rangkulan jeda untuk apa yang disampaikannya sejak berjabat tangan dan menyebutkan namanya: “Wahyu”. Nomen est omen, nama adalah tanda, begitu kata pepatah Latin. Seperti juga sejak tadi, Wahyu, dengan caranya yang sabar, berusaha menerangkan dalam kata yang paling ringkas dan lugas sepenggal kisah Babad Tanah Jawi kepada saya; seorang pemuda dari pedalaman Manggarai Flores.

“Silahkan saja, Mas” begitu katanya tadi sesaat sebelum menjauh ketika saya meminta sedikit waktu untuk mengambil foto langit-langit Pendopo Ageng Mangkunegaran. Take your time.. Ya, selain sedang belajar mengabadikan ruang dalam foto, saya juga butuh waktu untuk sedikit merenungkan semuanya, ringkasan panjang penuh filosofi sarat makna itu.

Saat dilihat dari jauh, Pura Mangkunegaran seakan mempunyai tingkatan-tingkatan. Sewaktu tadi saya tanyakan itu, jawaban Wahyu kira-kira begini… Wujud bangunan yang (lantainya) makin tinggi di tiap tingkatannya menggambarkan tingkatan dalam perjalanan kehidupan manusia: Pendopo Ageng, Pringgitan, dan kemudian Dalem Ageng. Salah satu makna yang kemudian dijelaskannya adalah: “menjalani proses” merupakan salah satu kunci penting dalam kehidupan. Kebanyakan orang kini lupa dengan itu; hanya menginginkan hasil, tetapi lupa dengan proses – dan bahkan “melompati proses” dengan cara-cara instan.

Ibarat Dalem Ageng yang “tersembunyi” dari luar, begitulah hidup manusia. Kita hanya bisa menjalaninya, mengalir bersama proses dengan sebaik-baiknya; hasil akhirnya tetaplah ada di tangan Sang Pencipta. Menarik bahwa Wahyu menggunakan istilah “Gusti sing ngecat lombok” (Dia yang Mewarnai Lombok/Cabe untuk menyebut kata “Tuhan”. Bagaimana lombok itu bisa berubah warna dari hijau menjadi merah? Itulah karya Sang Pencipta. Bagaimana kehidupan kita esok atau bahkan setelah kematian? Itu menjadi “rahasia” dari Sang Pencipta. Yang kita bisa lakukan saat ini sebagai manusia adalah menjalani proses kehidupan dengan sebaik-baiknya.

Tetapi Wahyu juga menambahkan di akhir ceritanya tadi, melakoni proses dan tidak bermental instan, juga mesti dihayati dalam sikap “ojo ngoyo”, effortless, mengalir, “ngalir aja”. Ah.. Untuk itulah saya butuh waktu untuk mengambil jeda di bawah kubah ini. Semuanya lumayan rumit untuk dipahami sekaligus dalam seperjalanan kaki..

Juga, sambil berbaring di bawah pusat kubah ini saya merenungkan satu hal: perjalanan saya hingga bisa berada di Solo pada hari ini adalah sebuah proses yang melibatkan banyak orang dan banyak hal di dalamnya. Untuk itu, di rangkaian catatan awal saya tentang “Sejanak Berkunjung Ke Surakarta”, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Adik-Kakak, Mama-Bapa, Rekan-Kenalan, serta sahabat-sahabat Facebook yang telah mendukung saya hingga bisa memenangkan satu tiket perjalanan Seminar ke Solo ini. Terimakasih juga kepada pihak Nasional Bootcamp yang telah menyeleksi dan memilih saya sebagai satu dari dua orang pemenang dari antara peserta lainnya.

Pada akhirnya, rasa terimakasih tak terhingga ini juga saya sampaikan kepada keluarga besar Jitu News untuk segala bentuk dukungan dan pengertian yang memungkinkan saya memperdalam ilmu di kota bersejarah ini. Semoga pada akhirnya, Gusti Sing Ngecat Lombok memperhatikan dan merahmati kebaikan hatimu dengan berkat yang melimpah sepanjang hari-hari dalam perjalanan hidupmu.

Solo, 21 Oktober 2015. Teriring rasa syukur yang mendalam, tabe.

Sebelumnya, di Narareba …

Dari hati yang paling dalam, di awal subuh ini saya mengucapkan berjuta terimaksih untuk dukungan dari ade dan kaka, mama dan bapa, om dan tanta, serta para sahabat dan kenalan dalam bentuk like dan share untuk kreasi sederhana ini. Lomba ini akan ditutup pkl. 12.00 WIB siang nanti dan hasilnya akan diumumkan oleh panitia #NasionalBootCamp pada tanggal 15 Oktober 2015.

Saya sangat berharap bisa menang dan ikut serta dalam kegiatan #NBC19SOLO nanti. Namun sekiranya tidak terpilih, kebahagiaan terbesar saya adalah kerelaan dan dukungan yang terus mengalir sejak foto ini di-share di beranda Facebook. Sebentuk doa dalam nada syukur adalah hal terbaik yang mungkin bisa saya lakukan atas cinta dan perhatian itu; semoga ade dan kaka, mama dan bapa, om dan tanta, serta para sahabat dan kenalan selalu diberkahi dengan rahmat berlimpah dari Sang Pencipta.

@narareba on Nasional Bootcamp
Special Thanks to: Enu Sriendra Jelalu, Mama Koe Mersiana Eldis, Mas Sha Ied, Mas Satria Budi, Kak Castara Tara New, Kak Illo Djeer, Mama Katarina Mogi, Weta Selvii, Weta Proyeta Manchistri Unitri, Weta Yuni Safrudin, My lovely Sista Sicilia Glory Marnelly, Mas Darojat Agung SA S.H., Bang Ada Yank, Weta Avenia Menna, Ema Koe Willi, Ase Van Soverdi, Frater Elyas, Ema Koe Laurens Guntur, Mama Imelda Man-Nggao.. serta Kraeng Iuz Aryezta yang dengan rela hati telah men-share foto ini di timelinenya.. Tuhan memberkati.. Salam hangat, +Narareba