Beranda Sastra Pamitan Yudas

Pamitan Yudas

Pernah membayangkan, bagaimana kehidupan Yudas seandainya dulu ia tidak mati gantung diri setelah mengkhianati Yesus? Mati segan, hidup tak mau. Mungkin. Pamitan Yudas adalah puisi tentang itu, tentang kehidupan setelah meninggalkan Sang Guru. Tentang Adam (atau Hawa), setelah taman Eden.

Pamitan Yudas, Sang Murid yang mengkhianati Yesus

Sastra membawa kepada yang ekstrem. Sebab, lebih baik mati di tengah samudera raya daripada tenggelam di dalam sebuah kubangan – Alexander Solschenizyn

Pamitan Yudas

Lampu yang mati kunyalakan, lagi..
Malam kembali menggoda
dengan dingin rangkulannya,
masuk melalui celah ventilasi tanpa pernah diundang..

Ia yang cepat-cepat beranjak saat
kokok ayam mengancam akan melapor pada matahari..

Ah,
menggigit kuku tak pernah terbukti menyelesaikan masalah
apapun.

Toh aku juga tak pernah menyalahkan kodrat
yang melarang Adam menangis saat dihukum
hanya karena menggigit sejumput apel..

Pantas kebanyakan orang tak pernah butuh gunting kuku…

Berselingkuh dengan kegelapan memang tak pernah
menguntungkan
Begitu kata sebagaian besar guru..

Bodohnya, aku kelewat banyak tertidur dan tak memberi
sedikit ruang bagi suara mereka untuk mengetuk
genderang telinga kesadaranku..

Saat abu sudah kelewat tertiup angin pagi,
Saat embun terlanjur menguap terbirit-birit dikejar terik siang,

Baru kubuka sampul diktat dan terkejut menemukan (lagi)
Heidegger tersenyum dengan wajah acuh tak acuhnya..
kali ini bukan tentang

Manusia adalah Ada menuju Kematian..

Ketaktersembunyian diakuinya sebagai Kebenaran..

Malam, aku pulang..

Esok, esok malam..
Lupakan aku, atau siapapun dari diriku
yang pernah kau kenal

Saat kita..

aku dan bintang,
aku dan bulan,
aku dan gonggongan anjing

aku dan layar komputer..
aku dan tukang nasi goreng..
aku dan nomor-nomor asing..

aku dan sorakan suporter..
aku dan nyamuk-nyamuk..
aku dan diktat-diktat..
bercumbu dalam apa yang pernah
Sang Dia teriakkan:

“Bapa, ampunilah mereka,

sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

  • [message]
    • Catatan Narareba
      • Tulisan ini diperbaharui pada Februari 2015

Tanya pengalaman setiap “mantan” seminaris atau frater, perbedaan apa yang mereka rasakan di seminari dan “di luar” seminari1: metode pendidikan, suasana studi, ketenangan bathin, kehidupan rohani, kebersamaan, pengembangan diri, dan lainnya? Kalau pertanyaan yang sama ditanyakan di sini, jawabannya kira-kira begini: pengalaman di seminari ada di Catatan Yudas2; setelah di luar seminari ada di puisi ini – Pamitan Yudas.

Ini adalah puisi yang ditulis di malam-malam insomnia, di keremangan sebuah kamar kos di sudut belantara Jakarta. Jauh setelah meninggalkan Kisol, beberapa tahun setelah beranjak dari lembah Pagal, tak lama setelah pamit dari Novisiat transitus Depok. Ada perasaan kehilangan yang dituangkan, juga kerinduaan terpendam yang hingga kini masih tersimpan di kedalaman hati: keinginan untuk kembali.

Saat catatan tambahan ini ditulis, saat cukup banyak jeda waktu untuk merenungkan keseharian di belantara dunia “awam”, Pamitan Yudas dan perasaan yang dituangkan di dalamnya akhirnya dilihat sebagai bagian dari perjalanan hidup. Ada rasa syukur yang menyertainya: ucapan terimakasih kepada Sang Guru, yang telah membukakan pintu kesempatan untuk sejenak merasakan pengalaman dan kebersamaan dengan orang-orang pilihannya3.

Mengulang apa yang pernah diungkapkan Risal, kawan karib yang kini jadi pengajar Matematika di Seminari Kisol, saat sedang berdupa di Evergreen belakang asrama: “Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih, Eces yang menentukan.” Tambahannya: kita yang memutuskan, untuk menjalaninya atau tidak.


1. Keterangan tentang Seminari, silahkan baca catatan kaki di artikel ini: Tolong, Jangan Tambah Satu Lagi^

2. Puisi Nara Reba sebelumnya: Catatan Yudas^

3. Baca catatatan tentang pengalaman kami di Kisol dalam artikel Lemorai: Perantau Yang Kembali^

Artikel sebelumyaCatatan Yudas
Artikel berikutnyaBerawal Dari Cinta Separuh