Beranda Catatan Jejak Narareba Di Kota Tua – Jakarta

Jejak Narareba Di Kota Tua – Jakarta

Kota Tua – Jakarta adalah salah satu tempat untuk bisa bercengkrama sekaligus “cuci mata” di malam hari. Ini adalah cerita (lagu) yang muncul saat suatu malam, narareba dan seorang sahabat bercengkrama di sana, curhat tentang kehidupan sambil bernostalgia tentang kampung halaman: Manggarai – Flores.

Jejak Narareba Di Kota Tua - Jakarta
Kota Tua Jakarta (Oud Batavia) adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta yang sejarahnya diawali dengan munculnya kerajaan Padjadjaran, jauh sebelum kedatangan Portugis, Belanda dan Jepang ke Indonesia. Mengingat besarnya nilai warisan sejarah yang dimilikinya, pada tahun 1972, wilayah ini diresmikan sebagai situs warisan oleh oleh Gubernur Ali Sadikin.

Jejak Narareba, Suatu Malam di Jakarta

Di suatu malam, saat kami sedang duduk bersila menikmati keramahan Kota Tua – Jakarta; ada sepeluk gitar tua dan ajakan seorang sahabat: “Nyanyikanlah sebuah lagu..”

Lagu ini pun mengalir. Pelangi Di Matamu, sebuah lagu lawas dari gruop band yang menjadi dewa musik pada masanya, pada masa kami SMA: #JAMRUD. Lagu itu dipilih begitu saja dari ingatan, ibarat tangan anak kecil yang dimasukkan ke dalam kaleng biskuit kenangan dan meraba-raba, kemudian mendapatkan satu. Persis seperti itu..

Tidak ada yang ‘wah’ dari lagu ini untuk dipamerkan, tetapi ia mungkin punya ‘sesuatu’ untuk diceritakan. Ia adalah lagu yang dulu dinyanyikan dengan gitar tua yang berbeda di jalanan Jakarta; semasa blog narareba belum ada, dan pengamen Ibukota adalah pekerjaan utama selain kuliah.

Sekarang, delapan tahun berselang, ketika dinyanyikan lagi di Kota Tua, ada kenangan yang mengikuti setiap nadanya. Kenangan bahwa hidup juga adalah sahabat tidak banyak bicara. Delapan tahun HIDUP di Jakarta adalah tahun-tahun yang hening; masa-masa yang selayaknya disimpan dalam peti untuk direnungkan, sebagai bekal yang nantinya dikisahkan kembali kepada anak dan cucu..

Tiga puluh menit, di Kota Tua.. Kami duduk bersila di tengah keramaian: aku dan seorang sahabat, gitar tua yang sedang tak dipakai pengamennya, dua gelas kopi, sebungkus rokok, camilan yang masih tersisa separuh, seekor anjing yang berbaring malas di dekat kami meletakkan sepatu, dan sepotong kamera kecil. Di tengah-tengah suasana itu, lagu ini dinyanyikan: titipan jejak narareba di Kota Tua.

Bukan soal bagus dan tidaknya, kenapa lagu ini akhirnya diupload juga. Ini tentang membahasakan perasaan berbagi. Berbagi kenangan. Berbagi perasaan. Berbagi hidup. berbagi cerita tetang perjalanan. berbagi cerita tentang Jakarta.

Karena, apalah arti kebahagiaan [juga kesedihan] jika disimpan sendiri?

30 Menit di Kota Tua – Jakarta

Setelah kemarin bergulat dengan kemelut di catatan “Atas Nama Klik Yang Maha Kuasa“, kemudian terpikir: kenapa tidak menguplaod lagu sendiri? Video “30 Menit di Kota Tua – Jakarta” ini akhirnya saya pindahkan dari Youtube ke Narareba. Kualitasnya jauh dari bagus, apalagi kalau harus disandingkan dengan lagu Ite Manggarai karya rekan-rekan dari Jogja.

Ya. Mungkin karena saya bukan penyanyi; hanya seorang blogger yang sedang belajar menulis dan mencoba berbagi. Akhir kata, selamat menonton. Senang bisa berbagi, tabe.

Artikel sebelumyaAtas Nama Klik Yang Maha Kuasa – Sebuah Catatan
Artikel berikutnyaPendopo Ageng Mangkunegaran – Jejak Narareba