Jakarta yang Sesaat Menjelma Menjadi
Di bulan-bulan ini, Jakarta seolah menjelma jadi Ruteng. Bermendung sendu dan berlantaikan genangan. Juga punya bau tanah basah, menguar bersama aroma handuk lembab yang dijemur di lindungan atap.

Rintik yang selalu menyapa di pagi. Deras yang siangnya mengikuti. Atau umpatan-umpatan kecil semisal: “Untung tadi saya cepat berangkat. Kalau tidak, pasti runcung.. “

Seolah menjelma.
Semacam kata bahasa halusinasi..

Dan akhirnya, sejenak bertualang dirasa penting. Untuk sekadar mengalihkan pikir dari rutin keseharian dan ruwetnya alogaritma di awal tahun. Tapi, ke mana? Bahkan tiap tempat piknik pun kini punya WiFi.

Kenapa mereka tidak memasang tulisan, semacam di restoran cepat saji: Dilarang membawa makanan/minuman dari luar? Dimodif sedikit menjadi: “Anda sedang mengasingkan diri di sini. Dilarang membawa pekerjaan/dateline dari luar.”

Tetapi begitulah. Jakarta seolah menjadi Ruteng. Seperti juga Labuan Bajo, yang akan segera seolah menjadi Jakarta. Bukan soal cuacanya. Soal perputaran segala sesuatunya. Mungkin juga, orang-orangnya.

Jakarta yang Sesaat Menjelma Menjadi

*Bingin. Januari 2020