Dewa dan Rintik di Bubungan Waling
Merangkak, tertatih dan akhirnya berjalan tegak. Begitulah dia. Tetapi ia tidak ingin sebatas itu. Ia ingin seperti kupu-kupu, bersayap. Ia juga ingin berubah bentuk, bermimpi bahwa akan ada sepasang sayap yang perlahan menyembul dari balik kedua punggungnya. Ia ingin menjadi malaikat, seperti kepompong yang akhirnya bersayap.

Kenyataan bahwa malaikat adalah ‘makhluk asing’ di antara sekumpulan manusia membuatnya jengah. Ia lalu ingin lebih dari malaikat, tak bersayap tapi bisa terbang pergi ke manapun ia mau. Ia ingin menjadi dewa, seperti Zeus, Seperti Apollo, Seperti Odin; ada di manapun dan kapanpun tanpa harus terbebani sepasang sayap dan berisik decak kagum. Namun, saat ia tengah ke sana dan ke mari, ia terpaku dengan sayup suara dari balik tembok di sudut kota. Untuk sehari ia tercenung dan bertanya-tanya, ‘Apalah artinya ada-di-manapun tetapi tidak-di-sini?’

Mendadak ia ingin kembali, bukan seperti dewa, bukan seperti malaikat, bukan seperti pejalan tegak, bukan sebagai makhluk yang merangkak, tetapi seperti janin. Tiba-tiba saja ia hanya ingin duduk, di sini, merenungkan cinta tanpa syarat seperti yang dulu diterimanya saat meringkuk di dalam kandungan ibu, jauh sebelum ia bersayap, jauh sebelum ia ingin menjadi dewa. Di sini, perlahan, dan tak selesai, air matanya menetes seperti rintik Oktober di bubungan Waling.

Di ujung isak, ditariknya napas panjang. Bukan seedisi buku. Bukan juga sebait lagu. Bukan sepotong puisi. Ia ingin memberimu ini, sepotong suara yang pernah memakunya di sudut kota:

Dengan isyarat yang tak sempat
Diucapkan kayu
Kepada api yang menjadikannya
Abu . . .

West Java, The Morning After The Day You Asked Me
‘Inspired by: “Metamorphoses” – Publius Ovidius Naso’