Antara Pilihan Hidup dan Seni Membaca Takdir

Seperti seni membaca garis tangan (chiromancy), peminat seni mengidentifikasi simbol dan menafsirkan pesan yang ditemukan di ampas kopi tidaklah banyak. Padahal, seni yang dijuluki tasseografi itu berumur hampir sama tuanya dengan umur kopi itu sendiri.

Begitu pun dengan mian xiang, seni membaca wajah. Atau tarot, seni membaca tanda melalui media kartu. Atau, astrologi. Juga, primbon.

Demikianlah, di hadapan komunitas yang mendewakan akal sehat dan teknologi modern, kesemuanya itu hanyalah ‘warna-warni’ percakapan. Semacam pengisi waktu luang. Tidaklah benar-benar dianggap seni, apalagi ilmu.

Persis seperti itulah kami mengisi waktu luang saban jam studi sore semasa di asrama. Dulu. Kadang membaca kartu. Kadang membaca garis tangan. Kadang juga membaca ampas kopi yang diselundupkan dari kamar makan.

Menjadi lucu, ketika hal yang semula ‘ala kadarnya’ lantas dianggap serius. Ketika yang berminat untuk ‘dibaca’ (diramal), tidak lagi sebatas teman sekelas. Teman seangkatan dari kelas sebelah pun ikutan antri.

Juga adik dan kakak kelas. Tidak jarang, antriannya baru kelar setelah tiga hari. Aishh..

Saya sendiri kesulitan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar kegiatan mengisi-waktu-luang-di-jam-studi-sore itu. Pertanyaan semisal, apakah itu serius? Apakah ramalannya akan benar-benar terjadi? Bagaimana cara ramalan itu bekerja?

Singkatnya: mungkinkah itu dapat dipercaya?

Antara Ilmu dan Ngelmu

Bertahun-tahun selepas dari asrama, perkenalan saya dengan mistik kejawen memberikan saya sedikit pemahaman. Selain ‘ilmu’, saya mengenal istilah baru: ‘ngelmu’.

Ilmu adalah kebenaran ilmiah yang didasarkan pada pembuktian ilmiah. Rasional, fenomenal, sistematis, teratur, dan analitis adalah berapa ciri yang bisa disebutkan tentang ‘ilmu’.

Berbeda dengan ‘ngelmu’; yang bisa rasional, juga mungkin irrasional. Ya, ngelmu tidak harus diterima melalui akal. Kebanyakan malah diwariskan melalui rasa atau laku tapa. “Ngerti sadurungne winarah” (tahu apa yang akan terjadi), adalah salah satu dari sekian banyak bentuk ‘pencapaian’ dari ngelmu.

Begitulah kira-kira: ada ilmu, ada ‘ngelmu’.

Soal Pilihan Hidup dan Takdir

Perjalanan hidup di lain hari mempertemukan saya dengan pemikiran-pemikiran Romo Herry-Priyono, SJ., tentang “memahami dualitas”. Biar tidak jatuh dalam pembahasan filsafat yang warbyasa njlimet, izinkan saya meminjam tulisan Yanuar Nugroho untuk membahasakan pemikiran Romo Herry.

“Di bawah kolong langit ini tidak ada yang sepenuhnya takdir, atau sepenuhnya kehendak bebas manusia. Situasi yang disebut ‘takdir’ itu sesungguhnya membentuk dan sekaligus terbentuk dari apa yang diklaim manusia sebagai kehendak bebas.”

Well, then. Ada takdir. Ada kehendak bebas. Di sinilah benang merahnya.

Kehendak bebas a.k.a. pilihan hidup, yang berlanjut dalam usaha dan kegiatan manusia, bisa diukur dan ditimbang dengan “logika”. Bagaimana dengan takdir? Dengan apakah itu diukur dan ditimbang?

Persis di situlah saya membagi peran ilmu dan ‘ngelmu’. Takdir hanya bisa dipahami dengan ngelmu. Pun, dalam tradisi Katolik purba ada pepatah yang sampai hari ini diukir dengan indah di dinding-dinding asrama atau biara:

“Ora et Labora” (Berdoa dan bekerja).

Melanjutkan Hidup

Pada akhirnya, pertanyaannya akan kembali ke chiromancy, tasseografi, mian xiang, tarot, astrologi, atau primbon. Masihkah itu ditekuni?

Pertanyaan semacam itu, sama dengan pertanyaan sejenis ini: masihkah berkomunikasi dengan mantan? Jawabannya juga sama: masih.

Ya, mantan adalah orang yang akan selalu kita cintai; kita hanya belajar untuk hidup tanpa mereka.*

Antara Pilihan Hidup dan Seni Membaca Takdir