Beranda Catatan Anak Papa Ngasang dan Hikayat Menjadi Keren

Anak Papa Ngasang dan Hikayat Menjadi Keren

Selain misa, ingatan kecil tentang hari-hari Minggu adalah Hercules, Xena, disusul Wiro Sableng. Sementara di hari-hari biasa, ada Tutur Tinular, Thunder Cats dan Kabuto.

Betapa televisi dekade 90-an membesarkan anak-anaknya dengan kisah-kisah heroik yang luwar biwasa. Kamu keren kalau kamu jago. Berkelahi.

Begitupun pilihan hidup. Sejak dari awal mula, situasi membiasakanmu untuk ‘terlihat’ atau ‘terdengar’ keren.

Kamu siswa SD yang keren kalau kamu jadi utusan lomba Cerdas Cermat, atau lulus testing masuk Seminari. Kamu siswa SMP yang keren kalau kamu staf OSIS, jago maen bola, atau keterima di SMA.

Pun di SMA, semuanya kurang lebih sama. Kecuali di tahun terakhir, ketika harus menentukan langkah selanjutnya: mengambil pilihan menjadi imam diosesan atau menapaki jalur para biarawan. Untuk pertama kalinya, aura keren dan tidak keren sejenak hilang dari pembicaraan di lingkup pertemanan.

Belakangan, saya memilih meneruskan langkah di jalan Para Saudara Dina. Setahun, dibentuk di Bonaventura dengan segala suka-dukanya. Bertani. Beternak menghadapi Bandot dan Gubio. Bertapa dalam Silentium dan Serafik sepanjang lingkar perbukitan dan cekungan sungai-sungai Pagal.

Termasuk mengalami bagaimana dalam prosesnya, ada Saudara seperjalanan yang memutuskan untuk berhenti, dan pergi. Ya. Kehilangan adalah peristiwa yang tak pernah mudah.

Sampai kemudian, setelah di Transitus, dari antara kumpulan domba itu, sayalah yang pertama kali berhenti dan pergi.

Ada satu yang selalu dibawa sejak itu. Sejak sesaat sebelum, selama, dan setelah Transitus. Bahwa hidup bukanlah soal bagaimana kamu bisa tampil keren di mata orang, tetapi pengorbanan seperti apa yang bisa kamu berikan untuk orang lain; setidaknya untuk mereka yang kamu cintai.

Mungkin kamu bukanlah Anak Papa Ngasang yang bisa dibanggakan sekeluarga besar. Mungkin kamu bukanlah tetangga lingkungan yang menarik untuk diceritakan separoki juga sekeuskupan. Atau mungkin, kamu bukan calon mantu yang layak untuk diperhitungkan di kalangan Anak Rona.

Karena kamu tidak keren. Sama sekali. Di mata orang. Lain.

Itu tidak jadi soal. Karena yang terpenting, bukanlah apa yang kamu lakukan untuk dirimu, untuk mencapai segala yang keren, supaya seisi dunia tahu. Minimal dapat Likes.

Pada akhirnya, ukuran dan takaran yang dikenakan kepadamu adalah apa yang sudah kamu lakukan untuk orang lain, untuk mereka yang kamu cintai.

Meski yang tahu itu cuma dirimu, jam dinding, dan Tuhan.*

Anak Papa Ngasang dan Hikayat Menjadi Keren

– Pagal, Cibal. Pada Suatu Masa.

Artikel sebelumyaNanti Tuhan Tolong, tetapi Kapan?
Artikel berikutnyaPandemi dan Latihan Menuju Akhir Zaman