Kebudayaan Orang FloresTulisan-tulisan mengenai Manggarai belum banyak tersaji di Nara Reba Manggarai. Semoga catatan, refleksi, dan puisi-puisi kecil yang saat ini sudah ada di blog Nara Reba Manggarai saat ini bisa menjadi batu pijakan awal dan penggugah semangat untuk terus menulis. Beberapa sahabat di daerah rantau juga banyak memberikan dukungan. "Tulis lebih banyak, Sobat" dan pesan-pesan senada yang mereka kirimkan lewat sms atau mereka ucapkan sambil menepuk pundak, bagi saya mengungkapkan ketertarikan serta keingintahuan mereka tentang Manggarai, Tentang Flores, Tentang NTT.

Semoga dari kesederhanaannya, Nara Reba Manggarai nantinya dapat menjadi salah satu sumber rujukan di beranda Google, ketika ada yang ingin mencari tahu tentang orang Manggarai, tentang kebudayaan Mangarai, atau juga tentang kekayaan alam di Manggarai - Flores. Ya, Nara Reba Manggarai memang punya cara tersendiri untuk membahasakan pengalamannya tentang Mangggarai atau sudut pandangnya tentang Menjadi Orang Manggarai. Saya percaya, jika saja setiap kita bisa berbagi cerita dengan cara kita masing-masing tentang Manggarai, generasi ke depan akan punya modal dan warisan yang lebih utuh tentang Manggarai, Tanah dan Kampung Halaman yang kita Cintai. Tabe.
---

"Bertahun-tahun lalu sejak 1950-an hampir semua ilmuwan sosial--- sejarah, sosiologi, antropologi---sama sekali merasa tidak puas dengan pendekatan sejarah ketika membicarakan Indonesia. Sejarah Indonesia dilihat dari kacamata Eropa, dan karena itu menjadi Eropa-sentris. Kedatangan bangsa Eropa dan kebudayaan Eropa yang dibawahnya menjadi puncak dari perkembangan sejarah. Karena itu penjajahan bukan penjajahan akan tetapi “the white man’s burden” untuk membudayakan dunia, dan terutama menyelamatkan ummat manusia dengan agama Kristen yang dibawanya."
- Daniel Dhakidae dalam "Sejarah Masyarakat Tanpa Sejarah"

Poskan Komentar Blogger

 
Nara Reba Manggarai © 2013. All Rights Reserved.
Top